Feeds:
Posts
Comments

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin – Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam, pemilik Pujian yang terbaik –

Sesungguhnya diantara kesempurnaan pernikahan adalah hadirnya buah hati tercinta di tengah-tengan keluarga. Sungguh suatu kebahagiaan dan nikmat yang sangat besar dari nikmat-nikmat yang telah Alloh berikan kepada manusia adalah kelahiran seorang anak.

Dan alhamdulillah, atas rahmat dan izin Allah Ta’ala, pada hati Sabtu bertepatan dengan 1 Ramadhan 1430 H/22 Agustus 2009 M telah lahir ke dunia anak kami yang pertama, laki-laki dengan berat badan 3,1 kg dan panjang 49 cm. Kami namai anak itu “Abdulloh” yang artinya adalah Hamba Allah, dalam rangka mengamalkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu yang artinya:

“Nama-nama yang paling disukai Allah ialah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.” (HR. Muslim)

Mudah-mudahan, Abdulloh bin Kurniawan ini akan  mengikuti jejak Abdulloh lain yang telah mendahuluinya dalam keutamaan dan kebaikan dalam ilmu dan amal serta dakwah kepada Alloh Ta’ala. Amiin.

Washallallaahu ‘alaa nabiyyinaa wal hamdulillaahi rabbil ‘aalaamiin

Abu Abdillah dan Ummu Abdillah

Oleh
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

[1]. Menghitung Hari Bulan Sya’ban

Umat Islam seyogyanya menghitung bulan Sya’ban sebagai persiapan memasuki Ramadhan. Karena satu bulan itu terkadang dua puluh sembilan hari dan terkadang tiga puluh hari, maka berpuasa (itu dimulai) ketika melihat hilal bulan Ramdhan. Jika terhalang awan hendaknya menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Karena Allah menciptakan langit-langit dan bumi serta menjadikan tempat-tempat tertentu agar manusia mengetahui jumlah tahun dan hisab. Satu bulan tidak akan lebih dari tiga puluh hari.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Puasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal. Jika kalian terhalangi awan, sempurnakanlah bulan Sya’ban tiga puluh hari” [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim 1081]

Continue Reading »

Prolog

Sebentar lagi bulan Ramadhan 1430 H akan segera datang ke hadapan kita. Bulan yang selalu dinanti kedatangannya oleh umat islam di seluruh dunia karena mengharapkan berkah dan rahmat yang Alloh turunkan pada bulan ini. Bulan yang di dalamnya memiliki sangat banyak keutamaan sehingga sudah sewajarnya dan seharusnya setiap muslim yang diberikan kesempatan oleh Alloh untuk berjumpa dengan bulan yang mulia ini bersyukur kepada Alloh Ta’ala.

Lalu bagaimana cara kita dalam menyambut dan menjalani bulan Ramadhan ini? Apakah dengan cara-cara yang selama ini kita lihat dan ketahui dari apa yang dilakukan oleh keluarga, tetangga, dan masyarakat di sekitar kita? Ataukah dengan cara yang lain? Lalu sebenarnya bagaimana sebenarnya Islam mengajarkan umatnya dalam menyambut dan menjalani bulan Ramadhan ini? Mari kita bersama-sama mencari tahu …

Ketika kita menyambut tamu yang sangat istimewa, kita pasti akan menyiapkan sambutan yang paling meriah dan jamuan yang paling baik. Demikian juga seharusnya kita dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Sudah selayaknya kita menyiapkan sambutan yang paling meriah dan jamuan terbaik yang kita miliki agar mendapatkan berkah bulan Ramadhan. Sambutan dan jamuan terbaik terhadap datangnya bulan Ramadhan adalah sambutan dan jamuan yang pernah dilakukan oleh Rosululloh shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya. Oleh karena itu, mempelajari bagaimana Rosululloh shollalloohu ‘alaihi wa sallam menyambut dan menjalani hari-hari di bulan Ramadhan sebelum bulan Ramadhan tiba adalah cara terbaik bagi kita untuk mempersiapkan diri.

Kewajiban untuk memiliki ‘ilmu sebelum beramal adalah kaidah syari’at yang sudah ditetapkan oleh ‘ulama ahlussunnah. al-Imam Bukhori telah membuat suatu Bab tersendiri dalam kitab shahihnya yang berjudul “al-‘ilmu qablal qauli wal ‘amali — ilmu lebih dahulu sebelum beramal”.

Alloh Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya”. [al-Israa’ : 36]

Karenanya, mulai sekarang stop taqlid dan mulailah belajar ‘ilmu islam.

“Ikutilah orang karena dia benar, jangan ikuti kebenaran karena orang. Kenalilah kebenaran maka kita akan tahu siapa yang benar”

Kembali Menulis

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah setelah sekian lama, saya bisa menulis lagi. Alangkah benarnya sabda Rasulullah Shallalaahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

“ Dua nikmat yang banyak dilupakan oleh manusia yaitu kesehatan dan waktu luang”.

Keinginan saya untuk menulis kembali muncul setelah membaca beberapa comment dari Saudara-saudara seislam. Sungguh menyenangkan bisa memberi manfaat bagi orang lain:

“ Muslim yang paling baik diantaramu adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain”.

Mudah-mudahan, apa yang saya tulis ini bisa bermanfaat untuk diri saya terutama dan orang lain.

Wallaahu a’lam

Oleh

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

[1]. Sumber ‘aqidah adalah Kitabullah (al-Qur-an), Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih dan ijma’ Salafush Shalih.

[2]. Setiap Sunnah yang shahih yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib diterima, walaupun sifatnya Ahad. [1]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya : Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terima-malah dia. Dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” [Al-Hasyr: 7]

[3]. Yang menjadi rujukan dalam memahami al-Qur-an dan as-Sunnah adalah nash-nash (teks al-Qur-an maupun hadits) yang menjelaskannya, pemahaman Salafush Shalih dan para Imam yang mengikuti jejak mereka, serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Namun jika hal tersebut sudah benar, maka tidak dipertentangkan lagi dengan hal-hal yang berupa kemungkinan sifatnya menurut bahasa.

[4]. Prinsip-prinsip utama dalam agama (Ushuluddin), semua telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapapun tidak berhak untuk mengadakan sesuatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya, apalagi sampai mengatakan hal tersebut bagian dari agama. Allah telah menyempurnakan agamaNya, wahyu telah terputus dan kenabian telah ditutup, sebagaimana Allah berfirman: Continue Reading »

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah atas nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan para pengikutnya.

Meniti jalan Salafush Shalih merupakan keharusan bagi setiap muslim, sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)” (QS al-An’am 153).

Dalam tatanan realitas kehidupan, banyak ditemukan kejanggalan beragama di kalangan umat Islam. Mereka semakin jauh dari nilai ajaran Islam sehingga mereka hidup dalam kebingungan dan kebimbangan. Lebih bingung lagi pada waktu mereka mencoba mencari solusi problem agama dan kehidupan secara salah dengan mencoba menerapkan pemikiran dan ajaran jahiliyah. Maka akibatnya muncul berbagai macam sekte dan aliran sesar dengan menisbatkan ajaran mereka kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga kondisi mereka tidak jauh berbeda dengan orang musyrik seperti yang dituturkan dalam firman Allah.

“Artinya : Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS ar-Ruum 31-32). Continue Reading »

Oleh

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Mereka tidak mempunyai perhatian terhadap pokok ini dan terhadap rukun pertama dari rukun-rukun Islam ini -sebagaimana telah diketahui oleh kaum muslimin semuanya-. Rasul yang pertama di antara para rasul yang mulia Nuh ‘Alaihis sallam telah mengajak kepada masalah aqidah hampir seribu tahun. Dan semua mengetahui bahwa pada syariat-syariat terdahulu tidak terdapat perincian hukum-hukum ibadah dan muamalah sebagaimana yang telah dikenal dalam agama kita ini, karena agama kita ini adalah agama terakhir bagi syariat-syariat agama-agama lain. Bersamaan dengan itu, Nabi Nuh ‘Alaihis sallam tetap mengajak kaumnya selama 950 tahun dan beliau menghabiskan waktunya bahkan seluruh perhatiannya untuk berda’wah kepada tauhid. Meskipun demikian, kaumnya menolak da’wah beliau sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.

“Artinya : Dan mereka berkata :’Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”. (QS Nuh 23).

Continue Reading »