Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Agar manusia dapat beribadah dengan benar, Allah Ta’ala telah memberikan pedoman baik melalui al-Qur’an maupun as-Sunnah yang diturunkan melalui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Konsekuensi logis dari diberikannya tuntunan tersebut, manusia harus berpegang kepada tuntunan (syariat) itu dalam melaksanakan semua bentuk peribadatan kepada Allah Ta’ala. Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun telah memberikan teladan kepada kita bagaimana cara beribadah kepada Allah Ta’ala yang benar. “Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu teladan yang baik … (QS al-Ahzab 21)
Lalu bagaimana supaya amal Ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala? Tidak lain adalah dengan memenuhi semua persyaratan yang diperlukan. Lalu, apa sajakah persyaratannya?
Para ulama berdasarkan hadits-hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah membuat kaidah yang menjadi asas dalam Islam agar amal ibadah seorang muslim diterima oleh Allah Ta’ala.
Pertama : Ikhlas, yaitu mengerjakan amal ibadah semata-mata karena Allah Ta’ala, tidak karena yang lain dan tidak juga karena Alla Ta’ala dan pada saat yang bersamaan karena yang lain juga.
Kedua : Ittiba’, yaitu mengikuti Sunnah (contoh) Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Bagaimana jika hanya salah satu saja syarat yang terpenuhi baik itu yang pertama saja maupun yang kedua saja, apakah amal ibadah kita diterima oleh Allah Ta’ala? Mari kita baca bersama-sama dalil-dalil dan pendapat ulama di bawah :
Dalil Pertama :
“(Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya” (al-Mulk 2).
Alla Ta’ala tidak mengatakan ‘yang paling banyak amalnya’ akan tetapi ‘yang paling baik amalnya’. Fudhail bin ‘Iyaadh menafsirkan ayat ini dengan:
“yang paling ikhlas dan yang paling benar.” Mereka bertanya : Wahai Abu Ali (panggilan kunyah bagi Fudhail) apakah yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar? Jawab Fudhail : “Sesungguhnya amal itu apabila dikerjakan dengan ikhlas akan tetapi tidak benar niscaya tidak akan diterima. Dan apabila amal itu dikerjakan dengan benar akan tetapi tidak ikhlas niscaya tidak akan diterima sampai amal itu dikerjakan dengan ikhlas dan benar. Dan yang dimaksud dengan ikhlas ialah amal itu karena Allah (lillah). Dan yang dimaksud dengan benar ialah amal itu atas dasar Sunnah.”
Fudhail bin ‘Iyaadh adalah seorang tabi’ut tabi’in. Imam yang tsiqah dan masyhur dengan kezuhudan dan ibadahnya. Seorang rawi yang dipakai oleh Bukhari dan Muslim dan lain-lain (tahdzibut tahdzib no. 5647.
Tabi’ut tabi’in adalah generasi umat islam setelah shahabat dan tabi’in. Masih termasuk dalam generasi yang oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam disebutkan sebagai generasi terbaik dalam haditsnya :
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku (shahabat), kemudian sesudahnya (tabi’in), kemudian sesudahnya (tabiut tabi’in)”. (HSR Bukhari dan Muslim).
Dalil Kedua :
“Barangsiapa yang mengharap (ganjaran dan balasan yang baik) akan perjumpaan dengan Tuhannya, maka ia hendaklah mengerjakan amal shalih dan janganlah ia menyekutukan dengan sesuatu pun juga dalam beribadah kepada Tuhannya.” (al-Kahfi 110).
Di dalam ayat tersebut, terkumpul dua asas yang merupakan syarat diterimanya sesuatu amal itu :
Pertama : “Hendaklah dia beramal shalih yakni atas dasar Sunnah mengikuti syari’at Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.”
Kedua : “Janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu pun juga dalam beribadah kepada Tuhannya.” Yakni lillah (karena Allah) menafi’kan (menghilangkan) segala macam kesyirikan dan peribadatan kepada selain Allah Ta’ala.
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan :
“Dan inilah dua rukun amal yang maqbul (diterima), tidak dapat tidak amal itu harus ikhlas karena Allah dan benar atas (dasar) syari’at Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.”
bersambung kesini…


[...] : 1. Agar Ibadah diterima disisi Alloh 2. Agar Ibadah Kita Diterima Allah 3. Bagaimana Supaya Amal Ibadah Kita Diterima Allah Ta’ala 4. Upaya Agar Ibadah Diterima di Sisi Alloh addthis_url = [...]